Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

Diary Of A Rocker

Things to Share

Blog EntryNov 20, '08 12:12 AM
for everyone

Lagi-lagi satu artis internasional mengurungkan kunjungannya ke Indonesia karena dihantui peringatan perjalanan. Peringatan ini muncul setelah melihat kondisi Indonesia yang tidak kondusif pasca eksekusi Amrozi dkk.

Mungkin pemerintahan Indonesia tidak terlalu peduli kalau ada satu artis asing membatalkan konsernya di Indonesia, selama tidak ada pejabat dari negara lain yang tidak berani datang ke Indonesia karena masalah keamanan. Padahal sekarang ini berita tentang artis lebih banyak ditengok orang daripada berita tentang pejabat negara. Berita pembatalan konser artis internasional lebih banyak dibaca daripada berita politik. Dampak pemberitaan bisa menjadi lebih luas.

Pemerintah Indonesia sekali lagi lupa untuk menjaga muka negaranya sendiri. Penanganan isu banyaknya ancaman bom sebelum eksekusi, tidak ditangani dengan semustinya. Upaya pencitraan untuk menunjukkan aparat sudah bekerja dengan baik untuk mengamankan kondisi tidak dimaksmalkan, walaupun bukti tidak adanya bom yang meledak menunjukkan kinerja yang baik dari para abdi negara.

Reportase pemakaman setelah eksekusi juga menjadi bencana. Di layar televise, antusias warga yang sangat besar untuk melihat proses pemakaman terlihat seperti penyambutan jasad pahlawan. Tidak kah pemerintah Indonesia sadar bahwa kejadian ini akan diamati oleh seluruh penjuru dunia?   

Untungnya – dasar orang Indonesia yang masih bisa bilang untung dengan kondisi begini – artis-artis asing lain yang sudah terjadwalkan untuk naik panggung di bulan November dan Desember ini mengkonfirmasikan kepastian kedatangannya. As I Lay Dying akan tetap membuat pit di tanggal 27 November. Sehari setelahnya, salah satu ajang Jazz terbesar di Indonesia, Jak Jazz, tetap memboyong rombongan artis luar menyemarakkan pesta musikal. Angel And Airwaves masih belum menunjukkan tanda-tanda akan urung mampir di Jakarta pada 9 Desember. Sementara band lama pelantun More Than Words, Extreme, sudah menyatakan akan tetap melangsungkan pertunjukan satu-satunya di Asia Tenggara pada 15 Desember.

Tepuk tangan semeriah mungkin untuk para promotor yang menjaga nama Indonesia di mata dunia.


Blog EntryOct 28, '08 12:15 AM
for everyone
Walaupun enggan untuk mengibarkan bendera putih, industri musik berjalan terseok dengan terus mencoba inovasi baru untuk menghadapi pembajakan. Industri film kini mengutamakan daratan Asia untuk disuguhi waktu pemutaran lebih cepat daripada di Hollywood-nya sendiri, agar para penonton di Asia kembali ke bioskop daripada mendapatkan DVD berkualitas demi hanya untuk mengejar ingin cepat-cepat menonton.

Dunia pertelevisian yang nyaris santai-santai saja terhadap pembajakan kini menghadapi situasi yang sama. Di sini berbicara tentang dunia pertelevisian Amerika Serikat, bukan pertelevisian negeri tercinta yang penuh dengan raungan sinetron dan haru-biru infotainment. Pasar acara televisi AS tergerus karena, lagi-lagi, penonton Asia memilih untuk membeli DVD bajakan satu season penuh, tanpa harus menunggu acara tersebut ditayangkan di televisi lokal mereka dan tidak harus menunggu satu minggu kemudian untuk menonton kelanjutan cerita. Beli satu set DVD dalam satu hari satu season bisa terselesaikan.

Karena itu, para eksekutif pertelevisian di sana menggunakan startegi yang sama dengan industri Hollywood. Mereka mendorong tayangan lebih cepat di kawasan Asia. Percepatan ini tidak sebatas menunggu seminggu atau hitungan jari. Dalam waktu 24 jam, acara tersebut sudah tayang di kawasan Asia. Strategi ini menarik penonton kembali ke depan layar televisi. Dibandingkan harus bersusah payah menuju otlet DVD bajakan untuk membeli keping DVD yang belum lengkap atau berlama-lama mengunduh acara ini di Internet, apalagi di Indonesia yang peta broadbandnya belum merata.

Bagi penggemar American Idol, mereka tidak perlu tahu  lebih dahulu siapa yang tersingkir dan kemudian baru menonton rekamannnya. Kini acara tersebut ditayangkan langsung ke penjuru dunia, dan pemutaran ulang dalam waktu kurang dari 24 jam.

Film serial juga  mengalami nasib yang  sama.  Jadwal pemutarannya didorong lebih cepat di Asia berkejaran dengan produksi DVD bajakan. Walaupun belum secepat kurang dari 24 jam, tapi paling tidak sekarang jauh lebih cepat dibandingkan harus menunggu satu season selesai baru dilempar ke pasar Asia.

Memang pasar untuk tayangan acara Amerika ini di Indonesia ini lebih banyak menyasar ke pasar menengah atas, karena ditengarai di luar pasar itu mereka lebih menyukai sinetron. Pilihan stasiun penayangan juga dipilih ke televisi berbayar yang mampu mendistribusikan ke penonton lebih luas di Asia, bukan pada satu negara saja.

Jadi kalau memang suka tayangan Amerika, buru-buru pulang ke rumah, siap-siap di depan televisi. Sambil menunggu kapan tersedia IPTV yang bisa memberikan waktu tayang fleksibel tanpa terikat jadwal. 

Kalau dilihat dari jajaran koleksi saya, album-album progresif bisa dibilang masih sebagian kecilnya. Padahal genre ini adalah genre yang paling saya kagumi.

Menurut analisa keuangan saya, ketersediaan CD bergenre progresif dengan harga bersahabat (baca: keluaran lokal) sangatlah jarang ditemui. Termasuk makhluk langka. Kalau yang harganya membuat mata melotot, atau belanja di amazon.com banyak.  Yang terjadi adalah karena tidak menemukan CD progresif dengan harga patut, yang ada di depan mata seperti death metal didahulukan dibeli.

Karena itu manusia seperti Oom Gatot, yang punya koleksi prog segumbreng menjadi inspirator sekaligus motivator saya. Wuedan ya…motivasi saya kok ya beli CD prog sebanyak-banyaknya?

Progresif yang sub genrenya macam-macam, sebutlah progresif rock, progresif metal, neo progresif, progresif death metal dan semakin panjang urutannya (lihat ke www.progarchives.com), buat banyak orang bukanlah musik yang mudah dicerna. Karena dicerna saja susah, apalagi enak didengar.

Istri saya yang punya kemampuan bermusik lumayan, mendengar prog sebagai musisi dengan kemampuan dahsyat tapi memilih memainkannya dengan njilimet. Lebih njelimet dari musik klasik malahan. Walhasil nada-nadanya susah nyantol di telinga. Tapi dia penggemar Reynold – In Memoriam. Sempat tercetus di mulutnya, mainnya keren banget.

Mertua saya yang juga penggemar musik klasik, blas tidak bisa membedakan prog dengan rock yang bukan prog. Anak saya yang baru-baru ini akhirnya bisa menikmati sebagian besar permainan di Dufan karena tingginya sudah mencukupi, punya satu kata andalan: berisik.

Tapi saya tetap teguh kukuh berlapis baja. Walaupun digunjing satu rumah, bapak ini kegemarannya denger musik yang gak bisa dinikmati, musik kok ngalor ngidul, nggak kenal nada, dan sebagainya lah, saya tetap tancap CD dan menikmati kesendirian (karena gak ada yang tahan lebih dari lima menit dengerin prog).

Tuhan ampunilah karena ketidaktahuan mereka akan musik terindah di dunia ini.

Terima kasih tuhan atas karunia yang diberikan kepada para musisi bertalenta maksimal, menyebut sedikit di antaranya: Yes, Dream Theater, Pain Of Salvation, Circus Maximus, Opeth, Ihshan, dan masih banyak lagi.

Sembah sujud kepada Tuhan memberikan saya dua pasang telinga, dua pasang mata, otak, hati dan perut yang sanggup menikmati kengalor-ngidulan, solo panjang, perubahan ritme yang tak diduga, ketukan yang tidak lazim, lagu yang panjangnya bisa satu album sendiri, menjadi untaian nada yang seperti turun dari kahyangan.

Akhir kata: Keep progin’ !


Blog EntrySep 5, '08 4:31 AM
for everyone
Tahun depan Indonesia bakal mengalami yang namanya Pemilu lagi. Masih terbayang arak-arakan panjang memacetkan jalan, baliho dan poster besar menghalangi jalan, dan rangkaian konser dangdut menggoyang massa akan menyesakkan kota. Hei, ini pemandangan lima tahun yang lalu.

Mengapa panggung politik di Indonesia dirasakan membosankan (bagi saya)? Tapi mungkin tidak membosankan bagi mereka yang mendapatkan hiburan gratis dari artis ibu kota.

Mengapa pidato dari para calon pemimpin tidak ada yang kelihatan menarik, baik dari isi maupun penyajiannya? Mungkin mereka sadar bahwa orang yang ditunggu-tunggu di atas panggung adalah artis ibu kota, jadi isi pidato tidak lah penting.

Mengapa pemandangan lima tahun lalu akan terjadi lagi? Karena cara yang sama berhasil lima tahun lalu.

Nggak menarik ah...

Blog EntrySep 2, '08 2:38 AM
for everyone
Saat ini rasanya hanya Amerika Serikat yang mampu membuat semua mata terpusat mengikuti persaingan perebutan kursi presiden. Dan hanya Amerika yang mampu membuat konvensi pencalonan presiden seperti layaknya panggung pertunjukan rock.

Pencalonan Barack Obama sebagai presiden mungkin akan menjadikannya sebagai presiden pertama Amerika Serikat yang berkulit hitam. Saingannya John McCain juga tidak kehilangan akal untuk berusaha mengukir sejarah. Sarah Palin digandengnay sebagai kandidat wakil presiden. Jikapun John McCain yang dipilih, maka Sarah Palin menjadi wanita pertama yang duduk di kursi orang kedua Amerika Serikat.

Apapun yang terjadi nanti, pasti akan terjadi sejarah baru di Amerika Serikat. Ini yang dipikirkan oleh tim kampanye pemenangan presiden. Dan tim ini juga yang membuat persaingan keduanya menjadi sesuatu yang enak ditonton. Seperti kita sedang menonton film-film produksi Hollywood.

Blog EntryAug 29, '08 6:02 AM
for everyone
Setelah industri musik disengat keleluasaan Internet, baru kali ini suatu event peluncuran album baru disambut panas, kalau tidak lagi bisa disebut hangat. Metallica adalah pelakunya, Death Magnetic judul albumnya, 12 September ini tanggal rilisnya.

Lucunya lagi, adalah Metallica yang menggugat Napster, melakukan kampanye besarnya memanfaatkan Internet secara masif untuk membuatnya sebagai topik pembicaraan antar penggemar musik. Terutama bagi mereka yang masih berharap Metallica akan kembali dalam format terdahsyat setelah kecewa mulai dari Black Album sampai puncaknya St. Anger.

Issue menurunnya musikalitas ini dimanfaatkan benar oleh para pemikir kampanye promosi album Death Magnetic. Mereka memberi harapan baru dengan menggelembungkan berita ditariknya Rick Rubin sebagai produser. Produser multi genre ini dikenal sebagai produser bertangan dingin, telah menelurkan beberapa album yang dimasukkan sebagai karya klasik yang pernah dibuat dalam sejarah.

Munculnya trek-trek yang dicurigai sebagai nomor terbaru Metallica juga sempat muncul di Internet. Metallica tidak perlu membantahnya, para penggemar dengan jeli mendengar bahwa ini hanya aksi gadungan.

Satu per satu trek dari album terbaru ini muncul. Satu lagu penuh Cyanide yang diambil dari salah satu konser Metallica muncul di YouTube dan menyulut komentar. Selanjutnya The Day Thay Never Comes dan My Apocolypse diluncurkan secara resmi sebagai penggoda.

Mungkin angka penjualan albumnya tidak akan pernah mencapai angka sebesar jaman sebelum Internet. Tapi saya memastikan akan masuk ke toko CD pada tanggal 12 September untuk membelinya.  

Blog EntryJul 29, '08 2:57 AM
for everyone
Hari ulang tahun pernikahan kami, yang kali ini menginjak tahun ke enam, berbeda dari yang sebelum-sebelumnya. Tidak ada bunga, lilin dan perjamuan romantis yang menghangatkan hari ini.

Justru kami lebih sibuk menengok perkembangan pembangunan rumah, dan malamnya menyambangi pesta pernihakan sahabat saya yang kebetulan jatuh pada hari yang sama. Sisa hari lebih banyak terpakai untuk tidur, menginjeksi kelelahan setelah kerja keras seminggu penuh.

Menunggu kado yang kira-kira akan sampai pada akhir Maret tahun depan, sudah cukup untuk mengisi hari ulang tahun pernikahan kami. 

Blog EntryJul 1, '08 6:04 AM
for everyone
Apa yang menarik dari konser Extreme Noise Terror di Jakarta lalu? Kita akan sampai ke sana.

Dengan banyaknya band pembuka, band dari Inggris yang membawakan sebut saja apa lah punk, crust, grind terserah, baru memainkan nada pertamanya jam 17.15. Beberapa penonton dengan aroma alkohol mulai merangsek ke depan tidak sabar menunggu, mendekati band yang mengacungkan kaleng bir.

Tiga lagu awal, mereka belum menemukan sound yang tepat. Setelah itu, yang terjadi adalah desibel tinggi dan kebisingan luar biasa.  Penonton di bibir pagar panggung menggila.

Dalam selingan antar lagu. Sang vokalis sempat berkomentar bahwa dia tidak percaya adanya Yang Maha Kuasa. Dan mendekati gelap, sang vokalis berkata lagi bahwa mereka hanya bisa membawakan dua lagu lagi. Maghrib hampir tiba dan semua kegiatan harus berhenti. Dua lagu selesai, adzan masih belum terdengar. Mereka masih berkesempatan menambah satu lagu lagi.

Saat panggung terdiam, penonton pun bubar dengan tenang diiringi oleh suara adzan.

Blog EntryMay 12, '08 5:34 AM
for everyone
Di suatu malam, saya dan adik saya duduk di muka TV menonton klip-klip lagu yang dipancarkan MTV. Tiba-tiba adik saya berkata, "Kenapa sekarang tidak ada lagi lagu yang benar-benar bagus, benar-benar fenomenal?"

Kemudian kita sejenak merunut lagu bagus apa yang terkahir muncul di jajaran lagu-lagu populer. Kita membatasi hanya pada lagu-lagu yang populer saja. Lagu-lagu idealisme yang kerap melawan arus pasar kita sisihkan dalam diskusi ini.

Kita akhirnya sepakat, Umbrella yang dibawakan Rihana adalah lagu terakhir yang cukup menggaung, dan kita juga setuju lagu ini sebenarnya juga tidak bagus-bagus sekali. Menurut ukuran kita tentunya.

Apa yang melatarbelakangi kurangnya lagu-lagu bagus yang muncul di kancah populer? Dari diskusi kita berdua, ada kesimpulan yang mungkin banyak benarnya, walaupun kita belum melakukan riset yang serius dan mendalam. Karena digitalisasi, semua bergerak menjadi sangat cepat. Penyimpanan di pemutar mp3 bisa dihapus dan diganti dengan lagi-lagu dengan hanya sekejap mata.

Karena itu, yang dikejar adalah daya catchyness yang tinggi. Yang penting dengan sekali atau dua kali dengar langsung nada-nada tertangkap di kepala. Urusan memolesnya jadi lagu yang sebaik mungkin menjadi di-nomor-sekian-kan. Toh, para pengkonsumsi lagu juga tidak mau mengeksplorasi lagu tersebut untuk benar-benar mengamati apakah lagu ini benar-benar bagus atau hanya kesan pertama (atau kedua).

Ini juga karena manusia sekarang maunya yang cepat dan gampang saja. Begitu juga tanggapan mereka terhadap lagu.

Industri musik juga harus terpaksa mengikuti tren perubahan psikologi manusia. Jadilah sekarang banyak lagu bertebaran yang kalaupun nantinya dilupakan, tidak apalah. Toh, lagu ini juga sempat mengumpulkan uang dari i-Tunes, dan melambungkan popularitas artisnya untuk diundang manggung di mana-mana.

Untuk zaman seperti ini, semua itu sudah cukup.

Blog EntryFeb 28, '08 10:32 PM
for everyone
Minggu kemarin saya dan istri berkesempatan menjajal Velvet Room-nya Blitz Megaplex. Untuk membedakan dengan teater kelas premier lainnya, alih-alih menggunakan kursi besar, Velvet Room menggantinya dengan tempat tidur.

Penonton di Velvet Room harus membeli tiket dua lembar, karena tempat tidurnya didisain untuk ditempati oleh dua orang, atau ditambahkan satu anak juga masih cukup. Selain menyediakan bantal yang cukup banyak, di bawah tempat tidur juga tersimpan selimut dan dua pasang sliper. Bagi yang memesan makan dan minum, disediakan meja portabel untuk menampungnya.

Untungnya film yang kita tonton cukup membosankan sehingga saya berkesempatan untuk berkesperimen mencari posisi yang paling enak untuk menonton. Berbagai posisi saya coba. Mulai dari tiduran, berpelukan berdua, duduk bersila sampai duduk di ujung tempat tidur.

Sebagai orang timur, sepatu dilepas ditinggal di bawah sebelum naik ke peraduan. Akibatnya pada saat saya keluar teater untuk ke kamar kecil, saya menginjak alas kaki penonton saat melewati tempat tidur mereka.

Sayangnya teater ini tidak menyediakan tata suara yang bergemuruh. Menjadi seperti kita mempunya layar lebar di kamar sendiri tetapi takut memperkeras suaranya karena tetangga sebelah akan melayangkan protes keras.

Sebagai alternatif cara menonton, penawaran yang diajukan Blitz Megaplex boleh diberikan tepuk tangan. Layaknya jagoan kita yang baru saja memenangkan baku hantam melawan musuh besarnya.

Foto diambil dari www.hersmagz.com

Blog EntryFeb 15, '08 2:36 AM
for everyone
Di hari Valentine tanggal 14 Februari yang ditasbihkan sebagai hari kasih sayang, Ariel, vokalis dari Peter Pan justru mengajukan perceraian ke pengadilan.

Bukan bermaksud untuk bergunjing, tetapi justru ingin mempertanyakan. Bukankah sebuah pernikahan adalah keputusan yang diambil bersama dan merupakan keputusan yang paling baik pada saat tersebut?

Pada saat terjadi pengajuan cerai, banyak yang berargumen bahwa setelah selang beberapa lama keadaan berubah tidak seperti dulu. Kembali saya bertanya, bukankah dari dulu juga sudah tahu bahwa tidak ada yang pasti di dunia ini?

Teman saya pernah berkata, yang penting adalah keberanian untuk mengambil keputusan dan selanjutnya bagaimana mengelola keputusan tersebut. Hal ini tidak saja dipraktekkan di dunia bisnis, tetapi juga di pernikahan.

Usia pernikahan saya (atau kami) masih bisa dihitung dengan jari. Saya (atau kami) mengalami naik turun di banyak hal. Dan kita juga sadar kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok, satu bulan atau bertahun-tahun kemudian. Yang bisa kita lakukan hanyalah mencoba mengendalikan situasi, tidak pernah menyerah dan tidak pernah berhenti untuk saling mengingatkan.

Mengingatkan apa saja, bahwa perjalanan terus berlanjut; anak perlu sekolah kemudian nanti perlu biaya pergaulan dan nanti menikah; mobil masih perlu untuk diremajakan; cicilan rumah masih perlu dibayar, mengisi rumah perlu pengeluaran yang tidak sedikit dan termasuk pemeliharaan; kami sekeluarga masih perlu hiburan dan rekreasi, baik makan-makan di dalam atau di luar rumah, beli DVD dan menonton bioskop, beli CD dan kaset (baik baru maupun bekas) dan nonton konser, beli buku maupun tabloid gosip, baik wisata ke luar kota maupun ke luar negeri; dan lainnya.

Cara mengigatkannya pun bisa macam-macam. Dari sambil marah-marah, merepet, ngedumel, mendiamkan seribu bahasa, sampai bicara serius diseliwingi tawa dan senyum, sentuhan dan hanya melalui tatapan mata.


Blog EntryFeb 14, '08 9:17 PM
for everyone
Sebulan belakangan ini mobil saya lebih banyak berada di bengkel daripada saya kendarai. Alhasil untuk transportasi sehari-hari saya mengandalkan taxi.

Perbedaannya sangat terasa. Berkendara sendiri di jagat Jakarta Raya sangatlah melelahkan. Baik fisik karena macet tak tentu waktu dan mental karena banyaknya pengendara berkendaraan bermotor yang ambil SIM-nya di warung.

Berhari-hari naik taxi membuat saya lebih relaks dan tidak mudah lelah. Kalau saja sistem transportasi umum di Jakarta adalah sebuah sistem yang menyenangkan, saya lebih memilih untuk tidur di bangku bis atau kereta tiap pagi dan sore.

Dan rasanya sangat malas untuk berkendara kembali setelah merasakan kemewahan ini.

Blog EntryFeb 6, '08 2:28 AM
for everyone
Akhirnya pemerintah sadar juga kalau kebanyakan libur akan membuat SDM di negara ini jadi kurang produktif. Hari ini dikeluarkan kebijakan baru untuk menghapuskan beberapa hari cuti masal saat hari kejepit dan menyisakan lima hari cuti masal.

Dulu saya memang senang dengan banyaknya libur. Tetapi dua tahun belakangan ini, libur-libur ini mulai menggangu. Pertama karena banyak pekerjaan saya jadi tertunda, karena si anu libur si ono libur. Dan kedua pengeluaran menjadi lebih banyak karena acara jalan-jalan keluarga frekwensinya meningkat.

Dengan dua hari seminggu libur dan perayaan-perayaan besar setiap tahunnya, cukup lah.

Blog EntryJan 27, '08 10:05 PM
for everyone

Drama kondisi kesehatan presiden RI kedua berakhir sudah pada hari Minggu, 27 Januari 2008. Pada hari Minggu itu Pak Harto berpulang.

Tokoh yang membawa Indonesia ke kancah internasional dengan status disegani, disebut sebagai Bapak Pembangunan, membawa Indonesia mencapai swasembada beras, dan berbagai penghargaan lainnya, sekaligus membawa kesimpang-siuran sejarah sampai ke liang kuburnya, berbagai perkara yang belum terselesaikan dan kontroversi lainnya.

Yang perlu diingat, sepanjang masa kepemimpinannya, turun dari jabatannya sampai meninggalnya, negara ini mendapatkan banyak pengalaman. Dan seharusnya kita semua sebagai rakyat, harus bisa belajar dari pengalaman.

Apakah akan ada perubahan? Kita semua yang punya peran.



Blog EntryJan 22, '08 9:17 PM
for everyone
Banyak impian saya yang sudah terkabul dan banyak juga yang masih dalam proses. Hidup harus selalu dipenuhi mimpi dong, sekaligus berusaha bagaimana agar mencapainya.

 Salah satu mimpi saya yang belum terwujud adalah punya akses Internet broadband di rumah dengan harga yang terjangkau. Memang sudah ada layanan seperti Speedy, Telkomflash dan lain-lainnya. Tapi menurut saya layanan-layanan seperti pada kalimat sebelumnya belum bisa memenuhi tuntutan saya, karena masih lumayan mahal (belum sesuai dengan nilai uangnya) dan juga membatasi kapasitas volume download dan upload.

Yang lebih cocok bagi saya adalah layanan dari First Media, yang tarifnya flat dan terserah mau berapa lama online. Menurut beberapa teman yang sudah berlangganan First Media, mereka menggunakan benchmark jika mengakses YouTube maka hasil yang didapatkan gambar dan suara tidak patah-patah. Kalau ujian ini lulus, maka bandwidthnya cukup layak. Dan dengan First Media yang 300 ribuan perbulan, katanya ujian ini berhasil dilewati.

 Kalau ada broadband di rumah, maka rencananya saya akan pasang router dan switch agar bandwidthnya bisa dibagi ke komputer lain di rumah. Ditambah dengan router nirkabel untuk menciptakan hotspot di rumah agar komputer bebas dibawa ke sudut manapun sambil tetap terkoneksi Internet. Dan saya akan pilih router nirkabel yang bentuknya enak dilihat agar masuk dengan estetika rumah.

 Saya juga akan tambahkan network storage systems sebagai tempat menyimpan sekaligus share file-file digital. Dengan ini, maka walaupun saya sedang di luar rumah, saya masih tetap bisa mengakses file yang isinya macam-macam.

Lebih komplet lagi, saya akan masukkan  Media Center Extender ke dalam wish list. Memakai Media Center Extender, saya bisa menyalurkan file musik ke stereo set, file video ke TV dan file foto ke pigura digital.

Sebagai keamanan rumah, saya juga akan pasang kamera berbasis IP. Sehingga kalau saya sedang di luar rumah,  dengan akses ke Internet saya tetap bisa memantau keadaan di rumah baik menggunakan komputer, PDA maupun handphone.

O iya, selain itu saya juga bisa lebih banyak di rumah dan tetap bekerja daripada tiap hari menembus macet berjam-jam.

Amiiiiiiiin......
Semoga kabel broadband lewat di bakal rumah saya...

Blog EntryJan 17, '08 3:30 AM
for everyone

Seperti kita tahu, Internet memberikan kesempatan bagi kita untuk mengakses lebih banyak musik. Baik secara legal maupun tidak legal.

Lalu bagaimana nasib radio yang dipersepsikan sebagai pemutar lagu-lagu yang dapat dinikmati dengan gratis?

Seperti ramalan terdahulu bahwa TV akan mematikan radio, prakiraan Internet akan membunuh radio juga belum sepenuhnya terbukti. Tetapi stasiun radio sudah menjalankan ancang-ancang agar tidak tergerus oleh Internet.

Jalan yang mereka ambil adalah dengan lebih serius membangun komunitas dan menggeser persepsi bahwa radio tidak hanya media untuk mendengar musik. Komunitas yang solid akan sangat berguna untuk mengikat pendengarnya serta memberi forum bagi komunitasnya untuk berbagi informasi serta mendapatkan mendapatkan informasi. Seperti layaknya web 2.0, radio melangkah ke radio 2.0.

Dan karena radio memberi ruang lebih banyak ke komunitas mengudara, mau tidak mau porsi musik dikurangi. Terlihat dari komentar istri saya ketika mendengarkan radio di mobil, “Ngapain sih dengerin radio yang isinya orang ngomong melulu?”

Pada intinya, radio menggeser persepsi bahwa radio tidak hanya musik, tetapi masih ada segudang program lainnya yang menarik kalau didengarkan pada saat bermacet-macet di jalan dan menunggu terlelap di waktu malam.

Dengan inovasi-inovasi yang dilancarkan stasiun radio, rasanya ramalan itu masih jauh dari kenyataan.


Blog EntryDec 12, '07 7:09 AM
for everyone
Ketika album mereka dikritik oleh media, banyak artis berdalih bahwa musik mereka tidak dibuat untuk konsumsi media saja, tetapi lebih untuk para penggemarnya yang mengapresiasi musik.

Pada saat itu, konsumen atau publik dalam artian besar, belum punya kemampuan untuk menunjukkan bahwa mereka menyukai album tersebut tanpa memperdulikan apa yang ditulis oleh media. Kini publik punya kemampuan lebih besar melimpahkan rasa cinta bahkan benci terhadap artis-artis.

Sebelumnya Amazon sudah memberikan ruang bagi para pendengar album untuk memberikan reviewnya. Review dari para pendengar awam dijadikan sebagai  pertimbangan apakah album tersebut akan dibeli atau tidak.

Kini kemampuan publik lebih besar dengan adanya blog. Konsumen bisa menulis apa yang diarsakan saat mendengar album tersebut, meneruskan reviewnya kepada orang-orang yang berada di jaringan, sekaligus dapat dilihat untuk semuanya tanpa batasan.

Saatnya para artis untuk berhati-hati dengan pernyataan di awal tulisan ini, karena keadaan sudah memungkinkan untuk mengetahui bagaimana tingkat penerimaan publik terhadap karyanya. Dan bukan tidak mungkin, review yang bagus dari publik dapat disejajarkan dengan review dari media yang dipersepsikan mengetahui betul akan bagaimana musik yang benar dibuat.

Tapi sejauh ini saya belum melihat dalam iklan suatu album yang mengutip komentar dari para penggemarnya. Iklan-iklan yang saya lihat masih mengambil komentar dari media-media terkemuka.

Bukankah para artis pernah bilang bahwa mereka membuat musik untuk penggemarnya? Para artis kini bisa membuktikannya.

Catatan: tidak semua artis mengeluarkan pernyataan bahwa musiknya dibuat untuk penggemarnya.

Blog EntryDec 10, '07 2:42 AM
for everyone

Bagi saya, tahun 2007 adalah tahun yang lebih ngerock dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Koleksi CD saya tidak bertambah dalam jumlah signifikan karena pengeluaran saya lebih banyak tersedot untuk pembangunan tempat keluarga saya akan bernaung. Beberapa album digital yang saya download tidak sering saya putar ulang karena kualitas suaranya jauh di bawah CD dan saya belum bisa berpaling dari karya sampul album kertas.

Tapi saya beruntung masih bisa menyisihkan dana untuk menonton pertunjukan hidup dari beberapa artis yang berkunjung ke Indonesia. Keringat saya yang terkuras di arena konser membasuh kerinduan untuk mengalami, melihat dan mendengar secara langsung.

Yang sangat menyentuh adalah kala saya akan menonton Sodom, anak saya bekata, “Bapak mau nonton konser metal?” Saat saya akan menonton Megadeth, anak saya merengek minta diajak. Dan saat saya pulang, istri dan anak sudah tertidur.

Semoga olehNya diberikan waktu untuk nonton bersama.


Blog EntryDec 5, '07 4:42 AM
for everyone
Senin 10 Desember, Jakarta diguyur hujan besar dan berketerusan. Saya yang memulai perjalanan pulang ke rumah jam 10.30 malam, harus sampai rumah jam 12 lewat dengan sebelumnya harus menerjang banjir. Padahal dengan rute yang sama, biasanya perjalanan bisa ditempuh setengah jam saja.

Selasa 11 Desember, di pagi hari hujan masih tersisa. Dari pengalaman, maka pasti pagi ini jalanan di Jakarta akan seperti neraka. Maka saya dengan cepat memtuskan untuk tinggal di rumah saja. Alasan pertama: buang-buang waktu di jalanan tanpa bisa produktif. Alasan yang kedua: capek di jalan.

Dengan dilengkapi workspace saya yaitu, komputer jinjing, telepon genggam dan Internet, saya meneruskan pekerjaan yang tertunda semalam. Ditambah dengan pekerjaan-pekerjaan baru.

Selama tiga tahun terakhir ini, saya memang memilih untuk tidak bekerja berdasarkan waktu yang mengekang. Tidak harus mulai dari jam 8 pagi selesai jam 5 sore. Saya juga tidak terikat untuk harus bekerja di kantor. Buat saya, bekerja bisa di mana saja dan kapan saja. Artinya saya juga masih bisa menjawab email-email jam 2 pagi di akhir minggu pula.

Tetapi bekerja di luar jam yang lumrah saya kerjakan dengan senang hati. Karena saya yang memilih untuk bekerja pada jam tidak lumrah tersebut. Dengan kondisi Jakarta yang super duper macet,  waktu kerja yang fleksibel ini sangat cocok diterapkan.

Jika saja terjadi penambahan 10% yang melakukan waktu fleksibel ini, mungkin saja jalanan di Jakarta terkurangi kepadatannya. Memberikan jalan bagi mereka yang memang harus pergi ke lokasi kerja.

Bukankah kita sudah bosan dengan kemacetan di Jakarta yang tak kunjung terpecahkan? Solusinya ada di kemauan diri sendiri.

Blog EntryNov 23, '07 3:54 AM
for everyone
Setiap kali saya masuk ke toko CD dan kaset, maka saya yang celingukan akan dihampiri penjaga tokonya dan ditanya mau cari apa? Dan sekali lagi saya jawab, saya mau lihat-lihat dulu.

Bukan seperti orang lain yang sudah tahu akan membeli apa, saya benar-benar tidak tahu apa yang akan saya beli. Serta tidak jarang saya keluar tanpa membawa satu CD atau kasetpun karena saya tidak mendapatkan apa yang saya sukai. Apalagi di jaman sekarang ini, rilisan-rilisan yang saya mau semakin susah didapatkan di toko-toko lokal.

Tidak seperti 15 tahun yang lalu. Sekali seminggu saya selalu menyambangi Aquarius Mahakam dan Duta Suara Sabang. Setiap minggunya selalu ada produk-produk baru yang dikeluarkan dan di Duta Suara Sabang ada satu rak yang berisikan produk-produk impor. Dua tempat ini adalah surga saya. Sampai saya bisa betah lebih dari satu jam menghabiskan waktu di sana hanya untuk lebih banyak mengagumi sampul-sampul album.

Pada saat itu saya lebih banyak membeli dibandingkan keadaan sekarang ini. Padahal saya sampai harus rela tidak jajan di sekolah agar saya bisa dapat paling tidak membeli dua buah kaset dalam satu minggu.

Sekarang ini walaupun kondisi keuangan saya lebih baik, tetapi surga saya telah menghilang. Kalau saya beruntung, maka saya mendapatkan apa yang saya inginkan dengan harga yang cukup pas.

Memang sudah ada toko online, tempat saya bisa berpaling, yang pasti memiliki apa yang saya mau. Tetapi saya masih berharap surga saya bisa kembali.

Pages:1234